Enjoy Jakarta
Taman
Wisata
LO7E Goes to Taman Wisata Alam Muara Angke
Liburan semester adalah saat yang tepat untuk berkumpul
bersama teman lama. Ya, kali ini gue dan teman-teman SMA gue yang tergabung
dalam Grup bernama LO7E pergi ke sebuah destinasi wisata di daerah Jakarta
Utara. Oiya, Terbentuknya LO7E ini gak jelas loh wkwk. Yang pasti kami jadi dekat
sejak kelas 10 SMA. Yang jelas, semakin lama kami semakin dekat. Ya, begitulah waktu.
Bisa mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.
Walaupun kelas 11 kami terpisah kelas, namun setidaknya sebulan sekali kami sering main ke markas rahasia. Eits. Jangan salah. L07E juga punya markas rahasia loh! Tepatnya di rumah Dian atau sering disebut dengan 'Princess Palace' di Planet Bekasi eh Kota Bekasi maksudnya. Nah LO7E ini beranggotakan Dian (Yance), Ira (Jaid. Sebenernya asal usul nama 'Jadi' ini gak jelas wkwk), Melisa (Memel), Abyan (Aby), Bayu (Kadal), Husain (Kampank), dan pastinya gue alias Afgan Syahdewa (?). Aneh-aneh kan. Haha -_-.
Akhirnya atas inisiatif Dian, kami memutuskan untuk pergi ke destinasi yang tidak biasa di daerah Jakarta Utara. Mengapa gue katakan tidak biasa? Siapa sangka, di tengah pesatnya pembangunan ibukota ternyata masih ada tempat semacam ini. Ya, Taman Wisata Alam Hutan Mangrove di Muara Angke.
Kami memutuskan berkumpul di Pusat Grosir Cililitan (PGC). PGC
adalah mall paling hitz se-Jakarta Timur. LO JANGAN NGAKU ANAK GAUL JAKTIM KALO
GAK TAU PGC! Hmmm.. Seperti itu. Rencananya sih kumpul di PGC jam 9. Tapi kenyataanya...
Jam 9 Dian baru selesai mandi
Jam 9 Bayu masih otw rumah gue
Jam 9 Melisa masih di tokonya
Jam 9 Abyan baru Otw rumah Ira
Jam 9 Ira masih nunggu Abyan di rumahnya
Jam 9 SI HUSEN BARU BANGUN TIDUR -_-
Hmmm sudah kuduga...
Akhirnya, kami kumpul di PGC pukul 11.30. Iya bener jam 9, Jam
9 lewat 150 menit. Kumpul jam 9 di PGC pun akhirnya hanya mitos belaka. INDONESIA
![]() |
PGC (favehotels.com) |
Kami lalu naik TransJakarta jurusan PGC-Grogol. Lalu disambung
dengan TransJ jurusan Pinangranti-Pluit dan turun di halte Penjaringan. Sebenarnya ada dua
alternatif dari Halte Penjaringan untuk mencapai TWA Angke Kapuk. Pertama, naik
Bus Kota Terintegrasi Busway (BKTB) turun di depan yayasan Buddha Tzu Chi. Yang
kedua, naik angkot B.01 turun di pintu masuk PIK. Kemudian disambung dengan
angkot U.11 turun di Depan Yayasan Buddha Tzu Chi. Akhirnya kami memutuskan
untuk naik angkot. Karena seperti jodoh, BKTB nya tak kunjung datang walau sudah
ditunggu sejak lama *curhat.
Baca Juga :
![]() Merangkai Sejarah Batavia di Kota Tua |
![]() Kekayaan Batik Nusantara di Museum Batik |
![]() Berkunjung ke Perpustakaan Tertinggi di Dunia |
Tarif B.01 sebesar Rp4000. Sementara tarif U.11
sebesar Rp5000. Kayaknya abang angkot U.11 nya mau deh dikasih 4000. Cuma
karena ada emak-emak bawel aja yang nyuruh bayar Rp 5000 -_-. Nah kebetulan,
kami diantar sampai depan pintu masuk TWA Angke Kapuk.
![]() |
Pintu masuk TWA Angke Kapuk |
Sebelum masuk pengunjung diwajibkan membeli tiket masuk. Orang dewasa dikenakan tarif
masuk Rp25.000, sementara anak-anak Rp10.000. Oiya, kalau ke sini dilarang bawa kamera, baik SLR maupun digital. Gak tau kenapa. Katanya sih takut dikomersialkan gambarnya. Rumor-rumornya, bagi yang membawa kamera bakal dikenakan biaya charge Rp 1 juta loh! Wewwwwwww.
Karena sudah jam 2 dan kami belum
solat Dzuhur, maka kami solat Dzuhur terlebih dahulu di sebuah masjid bernama masjid Al Hikmah. Letak masjid dengan pintu
masuk tidak terlalu jauh. Masjid nya juga unik loh, seperti terapung di atas air. Pemandangan dari masjid ini pun sangat indah. Seperti foto di bawah ini....
![]() |
pemandangan dari selasar Masjid |
Nah setelah solat, petualangan pun kami mulai! Tapi sebelum
memulai petualangan, kami mengisi perut terlebih dahulu. GILZZZ! Harga makanan di
sini mahal-mahal banget! Harga Indom*e aja Rp15.000! Saran sih, mending bawa makan
sendiri. Kalo gue sih GAK AKAN PERNAH RELA buang-buang duit Rp15.000 cuma buat Indom*e
wkwk. Saran juga, jangan lupa bawa payung + air minum yang banyak. Karena cuaca
di Jakarta Utara lumayan terik. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata si Husen
puasa!!! Gila. Lagi jalan jalan + panas terik begini dia malah puasa. Apakah
Husen akan bertahan sampai maghrib?? Kita lihat nanti.
![]() |
Kami siap bertualang! |
Nah, di Taman Wisata Alam seluas 25 ha ini ada bermacam-macam alternatif wisata loh. Ada tempat pengamatan Burung, ada wisata air, penginapan, pantai dll. Taman Wisata Alam Angke Kapuk juga menyediakan paket wisata
menanam pohon mangrove. Per orang dikenai biaya Rp 150.000.
Jika ingin menambahkan papan nama, biayanya Rp 500.000. Di sana terlihat
beberapa papan nama orang, perusahaan, instansi, hingga sekolah terpampang di
area penanaman mangrove.
Selain itu juga disediakan jasa sewa perahu bagi pengunjung
yang ingin berkeliling menggunakan perahu. Tarifnya pun bervariasi. Mulai dari Rp250.000/perahu (6 orang),
Rp350.000/perahu (8 Orang) dan perahu kano Rp100.000. Kami sih memutuskan untuk berjalan kaki biar kebersamaannya lebih terasa (padahal karena ga punya duit wkwk)
![]() |
Papan nama orang/instansi/perusahaan yang pernah menanam mangrove di sini |
![]() |
Tempat menanam mangrove |
Kami kemudian memutuskan untuk menuju pantai. Untuk menuju pantai kami harus melewati jalan setapak yang terbuat dari bambu. Fungsi jalan dari bambu ini sebenarnya sebagai jalan ketika laut sedang pasang sehingga jalan ini lebih mirip jembatan saat laut sedang surut. Jalan menuju pantai ini relatif panjang dan cukup menghabiskan energi. Di samping kiri dan kanan jembatan ini juga dipenuhi sampah. Ternyata pantai yang dimaksud hanyalah ujung dari TWA Angke yang berbatasan dengan laut. Laut nya pun cukup kotor dan bau. Kecewa juga sih. Akhirnya sesampainya di sana, kami hanya berfoto-foto.
![]() |
Dari kiri ke kanan: Dian, Husen, Melisa, Ira, Abyan, Bayu, Gue |
![]() |
Maafkeun ekspresi saya :( |
Untuk menuju lokasi
lain, kami harus melewati jembatan bambu lagi. Lama-lama lelah juga kalo harus lewat jembatan bambu ini. Si Melisa
bilang gini : "Dew, anjir gue udah gak kuat lagi. Elah kenapa dikasih
bambu-bambu gini sih jalannya?" wkwkw. Bener sih. Jalan di atas jembatan
bambu ini emang menguras energi. Sehingga jembatan ini kami juluki ‘JEMBATAN
BAMBU PENGHISAP ENERGI’ Pas awal-awal sih "Ih lucu banget, jembatannya dari bambu haha" Lama-lama be like : "Anj*ng kenapa lewat jembatan bambu lagi sih, lelah gue" wakakakak. Ternyata jembatan bambu di TWA Angke Kapuk tidak kalah 'menyiksa' dengan jembatan layang halte Semanggi :")
![]() |
Husen yang kelelahan karena harus melewati Jembatan Bambu Penghisap Energi :( |
Karena hari yang sudah semakin sore, maka kami harus pulang. Haduh, jalan keluarnya di mana lagi. Akhirnya kami jalan tanpa arah. Lagi-lagi harus lewat jembatan bambu. Sedih aing :(. Seakan-akan jembatan bambu ini berkata : "Lewati aku, maka akan kuhisap energi kalian HAHAHA".
Katanya sih Ira tau jalan keluarnya. Hmm kita ikuti saja. Dan sampailah kami di sebuah jalan yang masih belum jadi. Ya Allah, di mana lagi iniii :(. THANKS GOD. Ternyata ini adalah jalan menuju pintu keluar. Alhamdulillah. Akhirnya gue bisa lepas dari Jembatan Bambu Penghisap Energi (?). Setelah bersenang-senang, jangan lupa untuk tetap solat
![]() |
Bersujud kepada Allah, Bersyukur sepanjang waktu 0:) |
Setelah solat ashar, kami pun pulang. Namun karena sudah hampir maghrib, kami pun memutuskan untuk makan sembari menunggu waktu maghrib. Itung-itung nemenin si Husen buka puasa. Alhamdulillah, ternyata si Husen kuat puasanya. 4 Jempol buat lu sen. Udah panas, capek jalan, capek ketawa, tapi tetep kuat puasa. Salut
![]() |
Kemek ulud haha |
Akhirnya selesai sudah jalan-jalan edisi Taman Wisata Alam Kapuk Angke. Taman Wisata Alam Kapuk Angke bisa menjadi alternatif wisata untuk sekadar berfoto-foto sekaligus mempelajari tentang konservasi tanaman mangrove. Panas, keringat, capek jalan, capek ketawa, semua terbayarkan dengan memori indah yang tak terlupakan. Semoga hubungan ini bisa bertahan sampai kita tua nanti. Aaamiin.
BONUS PICT!
![]() |
Foto yang atas diambil tahun 2011 di Princess Palace Foto yang bawah diambil tahun 2015 di TWA Angke Kapuk |
*Estimasi biaya
Ongkos TransJakarta (PP) = Rp7000
Ongkos B.01 (PP) = Rp8000
Ongkos U.11 (PP) = Rp10.000
Biaya tiket masuk = Rp25.000
Total estimasi biaya = Rp50.000
Ongkos TransJakarta (PP) = Rp7000
Ongkos B.01 (PP) = Rp8000
Ongkos U.11 (PP) = Rp10.000
Biaya tiket masuk = Rp25.000

Look deep into nature, and then you will understand everything better
– Albert Einstein
Terimakasih untuk artikel yang sangat bermanfaat ini, kami bertambah pengetahuan setelah membaca artikel ini, para pembicara internet marketing selalu menyarankan untuk kita terus menulis artikel bermanfaat seperti ini, salam dari pearl wholesale dan sukses selalu untuk Anda.
BalasHapus